Sabtu, 17 November 2012

Anak Negeri, Sadarkan Diri Kita !!!



Salam…
Kesuksesan akan didapat hari hal yang paling sekecil apapun.  Termasuk kejujuran. Berawal dari kisah sekolah SD, SMP dan SMA. Misalnya saja, sangat jarang bahkan sulit menemukan anak yang mengerjakan ulangan dengan jujur. Ya... bisa di bilang begitu. Padahal kejujuran merupakan sebuah tonggak awal menuju kesuksesan. Kalau tidak jujur kapan negara kita akan maju. Mungkin kita hanya akan bermimpi tapi sulit bahkan tidak bisa merealisasikannya. Dengan begitu maka kita hanya terlalu mengandalkan orang lain. Bahkan tak sedikit juga orang yang selalu menyalahkan orang lain, sedangkan diri kita saja tidak mau berusaha. Payah.

Kekalahan Bukan Akhir Dari Segalanya


Setiap orang pasti pernah merasakan suatu kemenangan maupun kekalahan. Kekalahan memang sangat menyakitkan. Sulit hati kita untuk menerima kekalahan itu.

Tapi teman, jangan pernah putus asa ketika kita menghadapi kekalahan. Kita HARUS bangkit dan berusaha lagi, lagi dan lagi. Jangan pernah hidupmu hanya disia-siakan dengan kekecewaan hanya karena sebuah kekalahan. Ayo teman, kita bangkit. Jadikan kekalahan itu suatu cambuk bagi kita. Cambuk yang menjadikan kita lebih semangat untuk meraihnya kembali. Karena semua yang ada di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, jikalau kita mau berusaha keras untuk mendapatkannya.

Kejarlah Ilmu Jangan Hanya Kejar Harta Semata


Teman, tahukah kamu kelebihan ilmu dari pada harta ??? untuk lebih lanjut, baca ulasan di bawah ini :

Kurindukan Pulau Bali

Tanah Lot

Andai saja, waktu bisa berputar kembali. Aku tidak ingin meningggalkan Pulau Bali, setelah beberapa bulan yang lalu berlibur ke sana. Aku ingin kembali, menikmati nuansa seni dan getaran gamelan tradisional Bali.

Si Kecil Delisa, Membuat Hidup Lebih Bermakna


Akhirnya selesai juga membaca novel Hafalan Shalat Delisa. Novel yang begitu luar biasa. Novel yang telah membuatku meneteskan air mata, terutama mulai halaman 60-an sampai terakhir.

Ya… Allah, betapa mulianya sosok Delisa. Selalu bersyukur dengan apa yang Engkau berikan. Sampai musibah yang sebesar itupun Delisa menerimanya dengan ikhlas dan senyum yang menawan. Musibah yang telah menghilangkan keluarganya, kakinya, kebahagiaannya. Sedangkan aku, sulit bagiku untuk menerima musibah walau hanya sekecil atom yang hanya bisa dibayangkan.
 
;